Setelah berkeliling kecil di sekitar Taman Suropati, Menteng , jakarta Pusat. Akhirnya kerumunan Pramuda FLP angkatan 18 ini mendapat tempat yang cocok untuk menimba ilmu kepenulisan tentang non fiksi dari Mas Billy Antoro, alumnus UNJ. Acara pun diawali dengan pembacaan kalam Ilahi dan perkenalan singkat dengan Mas Billy.
Suasana sejuk yang dibawa langit dan suara bising karena banyaknya pengunjung Taman Suropati pada hari itu tidak mengurangi kekhusyuan dalam menyimak dan berdiskusi dengan Mas Billy seputar penulisan non fiksi.
Non fiksi, menurut Mas Billy banyak macamnya, seperti opini, biografi, sejarah, resep masakan, dan lain sebagainyayang mengandung fakta. Ada juga sebuah naskah non fiksi yang dipadukan dengan gaya bahasa sastrawi semisal feature yang beritanya mengambil tokoh-tokoh minor, yaitu yang berasal dari kalangan bawah. Orang yang menulis naskah seperti ini disebut jurnalis sastrawi.
Mas Billy juga memberikan resep menuli non fiksi yang kudu diperhatikan, yaitu unsur 5 W + 1H (What, Where, Who, When, Why, dan How). Kalau diindonesiakan menjadi 5A + 1N (Apa, Di mana, Siapa, Mengapa, Bagaimana, dan Kapan). Beliau juga membahas struktur non fiksi yang ada di koran disusun dari pembuka, isi, dan penutup. Struktur tersebut tidak berubah dari dulu sampai sekarang.
Hal yang akan disampaikan pun harus unik, belum ada yang menulis semisal itu. Cara penyampaian juga kudu diperhatikan. Mas Billy melanjutkan bahwa sebuah karya itu harus show it don’t tell it. Menjelaskan dengan detail , tidak secara umunya saja. Sebagai contoh ketika menulis seorang anak yang menangis, maka tidak cukup hanya dengan menulis “anak itu menangis”. Tetapi harus dituliskan juga bagaimana ia menangis dan menunjukkan bahwa si anak itu memang dalam keadaan menangis.
Saat sesi diskusi dibuka, kami berdiskusi dari perbedaan fiksi dan non fiksi, tentang novel yang semi fiksi, penyisipan sebuah kutipan dalam non fiksi, dan yang terpenting dari semua itu bagaimana ketahanan dan konsistensi kita dalam menulis non fiksi ataupun fiksi.