Sunday, 19 October 2014

Rumput Sendiri Lebih Hijau

Tas berwarna orange yang diletakkan di atas meja belajar itu dirogoh isinya oleh sebuah tangan. Kulit jari-jari yang halus meraba-raba seluruh daerah dalam tas. Mencari sesuatu yang hidup, ukurannya relatif kecil.
            “Lho, hamster gue ke mana?” Ikoki hanya menemukan bulu-bulu yang rontok berseliweran dalam tasnya. Padahal hamster itu dibeli dengan jerih payahnya sendiri. Untuk hewan kecil imut itu dia rela puasa jajan selama seminggu. Maka itu Ikoki terlihat kurus dari minggu sebelumnya yang memang juga kurus seperti sekarang. Beruntung dia pakai rok kalau sekolah, jadi tidak terlalu kelihatan kurus dibanding memakai celana jeans ketat, terlihat layaknya seorang yang naik egrang. Eits tunggu, mana ada sekolah pakai celana jeans.
            Ikoki jelas kebingungan plus gelisah, dia kehilangan hasil keringatnya. Namun tidak seperti teman yang lain. Kalau yang lain teriak-teriak seolah ada pengumuman penting dan darurat. Ikoki mengendap-endap mencari jejak hewan imut kesayangannya. Dia hapal baunya karena nggak pernah dimandiin. Tentu saja itu bukan kemauannya, tapi lantaran si kecil itu lari-larian terus ketika dimandikan. Dia stress menghadapi peliharannya yang bandel sementara si hamster syok tubuhnya serasa diremes pake tang ketika dimandikan. Pantas saja dia menyelamatkan diri, menghindari bahaya yang mungkin akan menjadikan badannya bengkok membentuk huruf  L.
Hewan itu tersiksa karena majikannya langsung memasukkannya ke dalam tas seperti barang. Sedangkan jika tiba di rumah diperlakukannya dengan tidak baik juga menurut pandangan hewan peliharaannya. Dikurung dalam sebuah sangkar yang tidak lebih besar dari akuarium ikan. Terbatas, tidak bebas, dan terkekang.
Dia melakukan razia ke kolong-kolong meja berharap hamsternya sembunyi di sana. Menelusuri lantai bawah meja, memasang mata tajam yang saking tajamnya bisa memantulkan cahaya.
            “Eh, lu ngapain Ki? Ngendus-endus kayak piaraan polisi aja. Jangan dibawa atuh kebiasaan lu di kampung. Kan bisa malu gue jadi temen lu.” Era kaget di sebelah kiri tempat duduknya, Ikoki sedang menerawang ke kolong kursinya.
            “Duh, Era. Kalo jadi temen tuh bantuin. Jangan ngomel begitu.” Jawab Ikoki, datar.
Era terperanjat mendengar temannya menjawab enteng tanpa merasa dosa sedikitpun. Melihat kelakuannya yang tidak bisa dikata dengan bahasa halus. “Ikokiii..”
            “Iya gue di sini. Deket kali nggak usah pakai teriak-teriak gitu. Kalo mau bantuin cepetan atuh. Jangan teriak-teriak mulu, pekak entar kuping gue.”
            “Duuh, bingung dah gue mo ngomong apa lagi ke elu. Ya udah dah, lu nyari apaan sih?”
            “Hamster gue ilang. Sini dong bantuin.”Ikoki berkata tanpa menoleh ke Era karena dia malas mendongak.
            Hati Era yang panas terpaksa didingin-dinginkan. Dia ikut mencari hamster yang belum terbayang bentuknya seperti apa apalagi warnanya. Kepalanya tidak direndahkan serendah Ikoki, hanya secukupnya. Asal bisa lihat ke kolong bangku dan meja. Seluruh benda kayu kaki empat  ditelusuri dari baris pertama sampai terakhir.
            Kadang Ikoki menyeruduk Era sampai keseimbangannya hilang. Untungnya hanya sekali Era terjatuh dan tidak ke lantai alias meniban punggung Ikoki. Sempat terjadi pertengkaran kecil. Tapi tetap saja Era mengalah, bukan karena kasihan. Dia tidak bisa melawan Ikoki dalam berkata-kata.
Sebaliknya, kepala Ikoki juga sempat terkena hidangan berupa sepatu Era. Kabar baiknya sepatu itu bersih tanpa noda. Berkat dicuci setiap hari sampai ibunya ngomel karena air yang dipakai untuk mencuci baju diembatnya juga. Namun, sekalipun tendangan Era tidak sengaja mengenai kepala Ikoki. Dia merasa impas, karena dianggapnya sebagai ajang balas dendam. Tapi akhirnya yang jatuh dia juga, sedang Ikoki cuma ngeluh bentaran saja. Sudah kesal tambah kesal lagi.
“Mana sih Ki, gue nggak ngelihat hamster lu.”
“Iya nih, padahal gue udah pake penerawangan super.”
“Halah gaya lu tuh. Sok iye banget.”
“Ya udah nih ini gimana? Bahaya kalau dia hilang.” Ikoki panik, menunjukkan rasa gelisahnya. Era yang memperhatikan Ikoki, segera berpikir untuk mengerjainya. Hitung-hitung ingin bikin kesel Ikoki.
“Emang kenapa? (ikutin gaya di iklan) Kan hamster murah, beli lagi aja kalau hilang.” Era bertanya mengejek sambil menyelidik.
“Hamster itu penting banget buat gue. Lu tau gak? Gue beli dia itu dari hasil tabungan gue sendiri selama seminggu.” Jawab Ikoki dengan napas terburu-buru.
Era membuka mulutnya berbentuk “o”, pura-pura terkesima. Sekarang dia jadi tahu kenapa si Ikoki selalu menolak kalau diajak jajan. Kalaupun ke kantin, temannya hanya melototin orang makan saja. “Ki, lu gak jajan?” tanya Era saat itu.
“Nggak ah, gue ngeliat orang makan juga udah kenyang.” Ikoki menjawab datar. Era langsung ke kantin meninggalkan Ikoki yang sedang termangu melihat orang makan. Karena nggak tegaan melihat temannya yang kayak gitu tiga hari belakangan, akhirnya dia belikan jajan untuknya.
“Nih, ambil aja buat lu.(Era menyodorkan sebunggkus gorengan) Dah yuk kita ke kelas”. Era meraih tangan Ikoki bermaksud mengajaknya ke kelas. Tetapi Ikoki malah diam saja. “Eh, kenapa lu Ki? Kok diem aja”
“Sebenernya lu nggak perlu jajanin gue. Apalagi gue belom pernah jajan sebanyak ini.”
“Jadi...” Era menunggu tanggapan Ikoki dengan tatapan bingung.
“Nih, gue balikin ke Elu.” Ikoki menyodorkan balik bungkus berisi gorengan itu.
Wajah Era memanas, “Eh, dasar nggak tahu terima kasih. Udah capek-capek gue munculin rasa tegaan, ngantri, desek-desekan demi itu bungkus. Lu malah balikin itu lagi ke gue.”
Ikoki ngelirik penghuni kantin. Pada melihat ke mereka berdua. “Jangan marah di sini dong. Malu kita diliatin.”
Pupil Era bergerak ke kiri. Dilihatnya penghuni kantin melongo dihiasi tatapan kosong ke arah mereka berdua. Warna wajahnya jadi hambar tidak jelas saking campur aduknya rasa marah, kesal, dan malu yang nggak ketulungan. Era segera menarik tangan Ikoki, kabur menuju kelas.
Kembali ke masa kini. Era ngelus-elus dada, berkata dalam hatinya, “Kenapa ya gue bisa temenan sama dia?” Sementara Ikoki yang masih mencari hamsternya merasakan getaran langkah hewan imutnya. Getarannya cepat, sepertinya hamster itu berlari. “Tunggu, gue denger suaranya” Ikoki memasang kuping sambil menerawang ke sekitar.
Seekor hamster berwarna hitam berkaki putih melewati pintu kelas tempat majikannya berada. Meluncur seperti roket. Ikoki melihatnya sekilas, tapi dia ragu itu hamsternya atau bukan. Namun dia yakin yang dirasakannya itu adalah aura khas hamsternya jika dia datang. Era juga kedapatan melihat hewan kecil hitam lewat depan pintu.
Mereka bergegas keluar kelas membuntuti ke mana si hamster itu berlari . Berharap sasarannya tidak terlalu jauh ketika mereka sampai di luar kelas. Nyatanya sesuai dengan harapan, hamster itu baru melewati anak lelaki yang jaraknya tiga kelas didepan mereka. Tidak terlalu jauh tapi cukup jauh.
Mereka mengejar hamster yang sudah berlari jauh. Hewan kecil itu tiba-tiba mengubah haluan ke arah semak-semak. Sayangnya proses perpindahan haluannya tidak terlihat Era dan Ikoki karena terhalang tubuh anak lelaki yang dilaluinya tadi.
Dua perempuan itu menghentikan langkah Anton yang diduga melihat jejak langkah si hamster. “Ton.. hosh.. hosh.. lu ngelihat nggak hosh.. hosh.. itu hamster hosh.. hosh”  Tanya Era dengan napas tersengal-sengal.
“Lu kayak abis lari ngiterin lapangan lima kali aja ampe kayak begitu. Lagipula tadi gua liat tikus tuh bukan hamster.” Jawab Anton tidak terlalu mempedulikan hewan hitam yang berlalu di depannya tadi.
“Eh, itu hamster tauuuk!! Bukan tikuss.” Era marah-marah, kedua tangannya mencengkeram kerah baju Anton.
            “E..eh, biasa aja dong! Lepasin tuh tangan. Cuma salah sebut doang gak usah kayak gitu kali.”
Ikoki nampak murung sejak Anton menyebut tikus. Dia berpikir dugaannya salah, yang dilihat tadi bukan hamster melainkan tikus. Lantas Ikoki berjalan balik menuju kelas dengan wajah murungnya. Era melihat Ikoki yang berjalan seperti itu. “Pasti salah kaprah ni anak” pikirnya. Dia melepaskan cengkeramannya lalu berlari menghadang di depan Ikoki.
“Ki, itu hamster lu tauk. Masak sih majikannya sendiri nggak bisa mengenali hamsternya sendiri.” Era membentak-bentak Ikoki. Kesal campur gondok. Untung saja tidak banyak orang saat itu.
Anton yang tadi menonton dua cewek aneh itu kini melanjutkan perjalanannya menuju gerbang sekolah. “Ah, dasar manusia rempong. Mengganggu orang saja.”
Ikoki menatap Era, murungnya hilang diganti optimis. “Oh, jadi bener itu hamster gue?”
“Iya bener” jawab Era melengos, kehabisan energi buat bentak-bentak. Dia lupa menanyakan Anton ke mana si hamster itu berlari. Ingin memanggilnya kembali, tapi wajahnya berubah jadi suram lantaran sosok Anton sudah tidak nampak.
Di antara semak-semak berbentuk kotak yang memang sudah dibentuk sedemikian rupa sebagai hiasan pekarangan sekolah. Seekor hamster hitam sedang berlindung dari penglihatan majikannya. Ia takut kembali lagi ke dalam kandang. Tidak bebas, terbatas. Apalagi tubuhnya hampir remuk ketika berada dalam genggaman majikannya. Namanya juga binatang, sekali-kali butuh refreshing. Dia mau mencoba kehidupan luar kandang.
Tampak seekor tikus melihat ke arahnya dari tepi selokan. “Bro, lu tikus kan? Ayo ikut gue ke dalam, banyak temen kok. Daripada di luar sendirian aja. Ayo bro.”
“Heh, tikus? Gue hamster tau.” Bantah hamster hitam berkaki putih.
“Ah, bohong. Lu tikus tau. Warnanya aja sama kayak gue. Dah ikut sini cepetan.” Tikus itu menaiki tepi selokan, berjalan menuju hewan yang dikiranya bagian dari kelompoknya. Si tikus mendekat, sementara hamster itu mundur sambil meyakinkan kalau dia bukan tikus.
Punggungnya menabrak tangkai di belakang. Dia tidak bisa mundur lagi. Wajahnya berkeringat ketakutan. Si tikus tersenyum senang, dia mengira akan mendapat kawan baru. Segera olehnya diteliti kawan barunya itu. Dia perhatikan dari ujung hidung lalu ke kepala sampai ke ekornya. Agak berbeda lagipula ekornya pendek. Dia juga mencium bau badannya. Tidak bau seperti tikus lainnya. Maka sudah bisa dipastikan olehnya kalau ini bukan tikus. Hanya warnanya saja sama.
"Ah, iya lu bukan tikus. Kecewa gue." si tikus membalikkan badannya dan kembali ke tempat asalnya, selokan tercinta. Hamster itu menghela nafas, "udah gue bilang kalau gue bukan tikus." ketika berjalan menuju sarangnya, langkah kakinya terhenti berbalik ke arah hamster.
"Tunggu dulu. Lu kan bukan tikus. Gue lihat lu itu hamster yang suka dikandangin sama manusia. Tapi kenape lu ada di sini?"
"Emm, gue cuma mau coba ngerasain kehidupan di luar kandang kayak gimane."
"Oh. Kalo gitu lu ikut gue aja, mencoba kehidupan luar kandang." si tikus kembali sumringah. Hamster yang di depannya bisa dijadikan teman. Oh, tidak, bukan hanya itu. Dia melihat hamster itu betina. Kebetulan dia masih bujang dan ingin juga kawin dengan hamster, marmut, dan sejenisnya. Memang tikus yang aneh.
"Eeeh! Iya gue emang pengen begitu tapi bukan tempat lu." tolak hamster. Jantungnya berdenyut mengirim sinyal ketidakberesan. Nalurinya memerintahnya untuk lari dari tikus yang di hadapannya itu.
"Ayo, jadi teman gue." si tikus mulai berlari ke arahnya.
Spontan dia lari menjauh dari tikus yang mengejarnya. "Tolooong." teriaknya keras. Namun hanya terdengar cit..cit di telinga manusia.
Sementara dua perempuan yang mencari hamster kebingungan. Ikoki mendengar suara hamsternya. "Itu kedengarannya suara hamster gue deh. Tapi kok ada suara lain ya." memasang telinga sambil celingak-celinguk kanan kiri. Era juga ikut sibuk mencari sumber suara.
Dua hewan pengerat hitam tampak berkejar-kejaran dari kejauhan. Keluar dari rumput sekolah lalu masuk lagi. Berlari sepanjang dinding koridor. Kemudian masuk lagi ke rumput. Main umpet-umpetan di balik batang pohon yang ada diantara rumput. Keluar lagi ke lantai koridor sekolah dan masuk ke dalam ruangan. Sayangnya tidak ada musik india yang mengiringi aksi kejar-kejaran itu.   
Ikoki melihat hamsternya berlari dikejar-kejar seekor tikus yang besarnya hampir sama, hanya lebih besar sedikit. Era pun menoleh setelah bahunya ditepuk temannya. Mereka berdua ikut berlari untuk mengambil hamster yang sedang dikejar itu. Namun terlambat karena dua hewan itu sudah masuk ke dalam ruangan.
“Eh, Ki, itu kan ru..ruang guru.” Era panik.
“Iya, gimana dong.” Ikoki mikir, “Kita masuk aja, cari di dalam”
“Eh, gila lu. Nanti itu hamster disita tau. Lagipula..” Era mengintip ruang guru, “guru-gurunya lagi rapat. Duh gimana ini.”
Era mikir sebentar, “Kok jadi gue sih yang panik banget. Ki, itu kan hamster lu. Kagak panik apa lu.”
“Yee, gue lagi bingung ini.” Jawab Ikoki.
Kalau tadi mengumpat di balik pohon, sekarang mengumpat di balik sepatu-sepatu yang berjejer rapi, teratur. Si tikus mesem-mesem sambil bergumam, “Hoho, begini ya asiknya main kejar-kejaran sama calon kekasih.” Badannya serasa terbang mengejar sasarannya, padahal dia hanya berlari.
Satu sepatu terangkat kemudian turun lagi. Alasnya mengenai si tikus. Hampir saja tergencet kalau dia tidak segera bereaksi cepat. Karena merasa menginjak sesuatu, pemilik sepatu melihat ke bawah, tapi tidak mendapati apapun.
Si hamster sedang berlindung di balik sepatu yang bagian tumitnya lebih tinggi dari ujungnya. Napasnya terengah-engah, capek lari-larian terus dari tadi. Suara napasnya terdengar oleh si tikus. Pelan-pelan dia berjalan menuju asal suara. Dia sampai di sepatu yang darinya suara napas itu berasal. Dia hendak mengagetkannya dengan muncul dari samping hamster. Dia mengitari tumit sepatu dan melihat si hamster sedang berdiam diri di samping sepatu.
“Halo sayang.” Sapa si tikus.
Si hamster terkejut melihat si tikus ada di sampingnya dan spontan melompat ke kaki yang melekat dengan sepatu itu. Tidak terelakan lagi, si pemilik sepatu berteriak. “Tikusng tikus..”
Si hamster melepaskan cengkeramannya, lalu berlari mencari jalan keluar di antara sepatu-sepatu yang sudah mulai bergerak tidak karuan. “Masa gue dibilang tikus lagi sih. Tikus aja bilang kalau gue hamster.” Protesnya.
Sementara si tikus kehilangan jejak calon kekasihnya. Dia sibuk menghindar dari hantaman sepatu yang beterbangan di atasnya. Sedang si hamster berhasil keluar melalui celah yang ada. Dia menuju deretan sepatu yang masih diam, tidak bergerak seperti yang barusan dilewatinya. Sepatu yang diam ini juga beda, bagian tumit dan ujungnya sejajar tidak ada yang lebih tinggi.
Dia melesat dengan cepat menuju cahaya putih yang terpancar dari pintu keluar. Memasuki cahaya putih dan keluar dari ruang guru. Pemandangan lantai koridor, rumput, dan lapangan sekolah terlihat kembali. Namun dia menikmatinya hanya sesaat, setelah itu kepalanya terasa pusing menabrak sepatu hitam.
“Ciit..ciit”. Ikoki menoleh ke bawah. Ada sesuatu yang menabrak sepatunya. Wajahnya langsung sumringah.
“Eh, hamsterku. Akhirnya ketemu juga. Em, kamu darimana saja.” Ikoki mengambil hamsternya, digenggam dan dielus-elus kepalanya, “Kamu bikin aku khawatir saja. Lain kali jangan keluar lagi ya.”
“Iye tapi jangan remes gue kayak gini dong.” Si hamster protes tapi hanya terdengar suara ‘ciit’ di telinga majikannya.
“Jelas aja hamster lu kabur. Orang lu perlakuin kayak begitu.” Ujar Era. Tiba-tiba dia melihat sesuatu keluar dari ruang guru, “Ki, tikus!? Tikus!?”
“Duh, masa gue dibilang tikus lagi sih.” Protes hamster, tapi tetap saja percuma karena manusia tidak mengerti ucapannya.
“Ih, Era. Ini hamster tau. Kok dibilang tikus sih.” Ikoki protes.
“Bukan... bukan. Tapi itu, tuh di depan kaki lu.” Era menujuk tikus yang baru keluar dari ruang guru. Tikus itu menatap calon kekasihnya berada dalam genggaman Ikoki.
“Dia ketemu pemiliknya sepertinya.” Si tikus menghela napas, “Pupus sudah harapan gue.” Dia kembali ke tempat asalnya dengan wajah lesu.
Si hamster lega hatinya setelah melihat tikus yang mengejarnya pergi. “Fiuuh, aman sudah. Kapok deh gue kabur dari majikan. Lagipula sekarang gue sadar kalo rumput sendiri lebih hijau.”
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment