Tas berwarna orange yang diletakkan di atas meja belajar itu
dirogoh isinya oleh sebuah tangan. Kulit jari-jari yang halus meraba-raba
seluruh daerah dalam tas. Mencari sesuatu yang hidup, ukurannya relatif kecil.
“Lho, hamster gue
ke mana?” Ikoki hanya menemukan bulu-bulu yang rontok berseliweran dalam
tasnya. Padahal hamster itu dibeli dengan jerih payahnya sendiri. Untuk hewan
kecil imut itu dia rela puasa jajan selama seminggu. Maka itu Ikoki terlihat
kurus dari minggu sebelumnya yang memang juga kurus seperti sekarang. Beruntung
dia pakai rok kalau sekolah, jadi tidak terlalu kelihatan kurus dibanding
memakai celana jeans ketat, terlihat layaknya seorang yang naik egrang. Eits
tunggu, mana ada sekolah pakai celana jeans.
Ikoki jelas
kebingungan plus gelisah, dia kehilangan hasil keringatnya. Namun tidak seperti
teman yang lain. Kalau yang lain teriak-teriak seolah ada pengumuman penting
dan darurat. Ikoki mengendap-endap mencari jejak hewan imut kesayangannya. Dia hapal
baunya karena nggak pernah dimandiin. Tentu saja itu bukan kemauannya, tapi
lantaran si kecil itu lari-larian terus ketika dimandikan. Dia stress
menghadapi peliharannya yang bandel sementara si hamster syok tubuhnya serasa
diremes pake tang ketika dimandikan. Pantas saja dia menyelamatkan diri,
menghindari bahaya yang mungkin akan menjadikan badannya bengkok membentuk
huruf L.
Hewan
itu tersiksa karena majikannya langsung memasukkannya ke dalam tas seperti
barang. Sedangkan jika tiba di rumah diperlakukannya dengan tidak baik juga
menurut pandangan hewan peliharaannya. Dikurung dalam sebuah sangkar yang tidak
lebih besar dari akuarium ikan. Terbatas, tidak bebas, dan terkekang.
Dia melakukan razia ke kolong-kolong meja berharap hamsternya sembunyi
di sana. Menelusuri lantai bawah meja, memasang mata tajam yang saking tajamnya
bisa memantulkan cahaya.
“Eh, lu ngapain
Ki? Ngendus-endus kayak piaraan polisi aja. Jangan dibawa atuh kebiasaan lu di
kampung. Kan bisa malu gue jadi temen lu.” Era kaget di sebelah kiri tempat
duduknya, Ikoki sedang menerawang ke kolong kursinya.
“Duh, Era. Kalo
jadi temen tuh bantuin. Jangan ngomel begitu.” Jawab Ikoki, datar.
Era terperanjat mendengar temannya menjawab enteng tanpa merasa
dosa sedikitpun. Melihat kelakuannya yang tidak bisa dikata dengan bahasa
halus. “Ikokiii..”
“Iya gue di sini.
Deket kali nggak usah pakai teriak-teriak gitu. Kalo mau bantuin cepetan atuh.
Jangan teriak-teriak mulu, pekak entar kuping gue.”
“Duuh, bingung dah
gue mo ngomong apa lagi ke elu. Ya udah dah, lu nyari apaan sih?”
“Hamster gue
ilang. Sini dong bantuin.”Ikoki berkata tanpa menoleh ke Era karena dia malas
mendongak.
Hati Era yang
panas terpaksa didingin-dinginkan. Dia ikut mencari hamster yang belum
terbayang bentuknya seperti apa apalagi warnanya. Kepalanya tidak direndahkan
serendah Ikoki, hanya secukupnya. Asal bisa lihat ke kolong bangku dan meja.
Seluruh benda kayu kaki empat ditelusuri
dari baris pertama sampai terakhir.
Kadang Ikoki
menyeruduk Era sampai keseimbangannya hilang. Untungnya hanya sekali Era
terjatuh dan tidak ke lantai alias meniban punggung Ikoki. Sempat terjadi pertengkaran
kecil. Tapi tetap saja Era mengalah, bukan karena kasihan. Dia tidak bisa
melawan Ikoki dalam berkata-kata.
Sebaliknya, kepala Ikoki juga sempat terkena hidangan berupa sepatu
Era. Kabar baiknya sepatu itu bersih tanpa noda. Berkat dicuci setiap hari
sampai ibunya ngomel karena air yang dipakai untuk mencuci baju diembatnya
juga. Namun, sekalipun tendangan Era tidak sengaja mengenai kepala Ikoki. Dia
merasa impas, karena dianggapnya sebagai ajang balas dendam. Tapi akhirnya yang
jatuh dia juga, sedang Ikoki cuma ngeluh bentaran saja. Sudah kesal tambah
kesal lagi.
“Mana sih Ki, gue nggak ngelihat hamster lu.”
“Iya nih, padahal gue udah pake penerawangan super.”
“Halah gaya lu tuh. Sok iye banget.”
“Ya udah nih ini gimana? Bahaya kalau dia hilang.” Ikoki panik,
menunjukkan rasa gelisahnya. Era yang memperhatikan Ikoki, segera berpikir
untuk mengerjainya. Hitung-hitung ingin bikin kesel Ikoki.
“Emang kenapa? (ikutin gaya di iklan) Kan hamster murah, beli lagi
aja kalau hilang.” Era bertanya mengejek sambil menyelidik.
“Hamster itu penting banget buat gue. Lu tau gak? Gue beli dia itu
dari hasil tabungan gue sendiri selama seminggu.” Jawab Ikoki dengan napas
terburu-buru.
Era membuka mulutnya berbentuk “o”, pura-pura terkesima. Sekarang
dia jadi tahu kenapa si Ikoki selalu menolak kalau diajak jajan. Kalaupun ke
kantin, temannya hanya melototin orang makan saja. “Ki, lu gak jajan?” tanya
Era saat itu.
“Nggak ah, gue ngeliat orang makan juga udah kenyang.” Ikoki menjawab
datar. Era langsung ke kantin meninggalkan Ikoki yang sedang termangu melihat
orang makan. Karena nggak tegaan melihat temannya yang kayak gitu tiga hari
belakangan, akhirnya dia belikan jajan untuknya.
“Nih, ambil aja buat lu.(Era menyodorkan sebunggkus gorengan) Dah
yuk kita ke kelas”. Era meraih tangan Ikoki bermaksud mengajaknya ke kelas.
Tetapi Ikoki malah diam saja. “Eh, kenapa lu Ki? Kok diem aja”
“Sebenernya lu nggak perlu jajanin gue. Apalagi gue belom pernah
jajan sebanyak ini.”
“Jadi...” Era menunggu tanggapan Ikoki dengan tatapan bingung.
“Nih, gue balikin ke Elu.” Ikoki menyodorkan balik bungkus berisi
gorengan itu.
Wajah Era memanas, “Eh, dasar nggak tahu terima kasih. Udah
capek-capek gue munculin rasa tegaan, ngantri, desek-desekan demi itu bungkus.
Lu malah balikin itu lagi ke gue.”
Ikoki ngelirik penghuni kantin. Pada melihat ke mereka berdua.
“Jangan marah di sini dong. Malu kita diliatin.”
Pupil Era bergerak ke kiri. Dilihatnya penghuni kantin melongo
dihiasi tatapan kosong ke arah mereka berdua. Warna wajahnya jadi hambar tidak
jelas saking campur aduknya rasa marah, kesal, dan malu yang nggak ketulungan.
Era segera menarik tangan Ikoki, kabur menuju kelas.
Kembali ke masa kini. Era ngelus-elus dada, berkata dalam hatinya,
“Kenapa ya gue bisa temenan sama dia?” Sementara Ikoki yang masih mencari
hamsternya merasakan getaran langkah hewan imutnya. Getarannya cepat,
sepertinya hamster itu berlari. “Tunggu, gue denger suaranya” Ikoki memasang
kuping sambil menerawang ke sekitar.
Seekor hamster berwarna hitam berkaki putih melewati pintu kelas
tempat majikannya berada. Meluncur seperti roket. Ikoki melihatnya sekilas,
tapi dia ragu itu hamsternya atau bukan. Namun dia yakin yang dirasakannya itu
adalah aura khas hamsternya jika dia datang. Era juga kedapatan melihat hewan
kecil hitam lewat depan pintu.
Mereka bergegas keluar kelas membuntuti ke mana si hamster itu
berlari . Berharap sasarannya tidak terlalu jauh ketika mereka sampai di luar
kelas. Nyatanya sesuai dengan harapan, hamster itu baru melewati anak lelaki
yang jaraknya tiga kelas didepan mereka. Tidak terlalu jauh tapi cukup jauh.
Mereka mengejar hamster yang sudah berlari jauh. Hewan kecil itu
tiba-tiba mengubah haluan ke arah semak-semak. Sayangnya proses perpindahan
haluannya tidak terlihat Era dan Ikoki karena terhalang tubuh anak lelaki yang
dilaluinya tadi.
Dua perempuan itu menghentikan langkah Anton yang diduga melihat
jejak langkah si hamster. “Ton.. hosh.. hosh.. lu ngelihat nggak hosh.. hosh..
itu hamster hosh.. hosh” Tanya Era
dengan napas tersengal-sengal.
“Lu kayak abis lari ngiterin lapangan lima kali aja ampe kayak
begitu. Lagipula tadi gua liat tikus tuh bukan hamster.” Jawab Anton tidak
terlalu mempedulikan hewan hitam yang berlalu di depannya tadi.
“Eh, itu hamster tauuuk!! Bukan tikuss.” Era marah-marah, kedua
tangannya mencengkeram kerah baju Anton.
“E..eh, biasa aja dong! Lepasin tuh tangan. Cuma salah sebut doang gak usah kayak gitu kali.”
“E..eh, biasa aja dong! Lepasin tuh tangan. Cuma salah sebut doang gak usah kayak gitu kali.”
Ikoki nampak murung sejak Anton menyebut tikus. Dia berpikir
dugaannya salah, yang dilihat tadi bukan hamster melainkan tikus. Lantas Ikoki
berjalan balik menuju kelas dengan wajah murungnya. Era melihat Ikoki yang
berjalan seperti itu. “Pasti salah kaprah ni anak” pikirnya. Dia melepaskan
cengkeramannya lalu berlari menghadang di depan Ikoki.
“Ki, itu hamster lu tauk. Masak sih majikannya sendiri nggak bisa
mengenali hamsternya sendiri.” Era membentak-bentak Ikoki. Kesal campur gondok.
Untung saja tidak banyak orang saat itu.
Anton yang tadi menonton dua cewek aneh itu kini melanjutkan
perjalanannya menuju gerbang sekolah. “Ah, dasar manusia rempong. Mengganggu
orang saja.”
Ikoki menatap Era, murungnya hilang diganti optimis. “Oh, jadi
bener itu hamster gue?”
“Iya bener” jawab Era melengos, kehabisan energi buat
bentak-bentak. Dia lupa menanyakan Anton ke mana si hamster itu berlari. Ingin
memanggilnya kembali, tapi wajahnya berubah jadi suram lantaran sosok Anton
sudah tidak nampak.
Di antara semak-semak berbentuk kotak yang memang sudah dibentuk
sedemikian rupa sebagai hiasan pekarangan sekolah. Seekor hamster hitam sedang
berlindung dari penglihatan majikannya. Ia takut kembali lagi ke dalam kandang.
Tidak bebas, terbatas. Apalagi tubuhnya hampir remuk ketika berada dalam
genggaman majikannya. Namanya juga binatang, sekali-kali butuh refreshing. Dia
mau mencoba kehidupan luar kandang.
Tampak seekor tikus melihat ke arahnya dari tepi selokan. “Bro, lu
tikus kan? Ayo ikut gue ke dalam, banyak temen kok. Daripada di luar sendirian
aja. Ayo bro.”
“Heh, tikus? Gue hamster tau.” Bantah hamster hitam berkaki putih.
“Ah, bohong. Lu tikus tau. Warnanya aja sama kayak gue. Dah ikut
sini cepetan.” Tikus itu menaiki tepi selokan, berjalan menuju hewan yang
dikiranya bagian dari kelompoknya. Si tikus mendekat, sementara hamster itu mundur
sambil meyakinkan kalau dia bukan tikus.
Punggungnya menabrak tangkai di belakang. Dia tidak bisa mundur
lagi. Wajahnya berkeringat ketakutan. Si tikus tersenyum senang, dia mengira
akan mendapat kawan baru. Segera olehnya diteliti kawan barunya itu. Dia perhatikan
dari ujung hidung lalu ke kepala sampai ke ekornya. Agak berbeda lagipula
ekornya pendek. Dia juga mencium bau badannya. Tidak bau seperti tikus lainnya.
Maka sudah bisa dipastikan olehnya kalau ini bukan tikus. Hanya warnanya saja
sama.
"Ah, iya lu bukan tikus. Kecewa gue." si tikus
membalikkan badannya dan kembali ke tempat asalnya, selokan tercinta. Hamster
itu menghela nafas, "udah gue bilang kalau gue bukan tikus." ketika
berjalan menuju sarangnya, langkah kakinya terhenti berbalik ke arah hamster.
"Tunggu dulu. Lu kan bukan tikus. Gue lihat lu itu hamster
yang suka dikandangin sama manusia. Tapi kenape lu ada di sini?"
"Emm, gue cuma mau coba ngerasain kehidupan di luar kandang
kayak gimane."
"Oh. Kalo gitu lu ikut gue aja, mencoba kehidupan luar
kandang." si tikus kembali sumringah. Hamster yang di depannya bisa
dijadikan teman. Oh, tidak, bukan hanya itu. Dia melihat hamster itu betina.
Kebetulan dia masih bujang dan ingin juga kawin dengan hamster, marmut, dan
sejenisnya. Memang tikus yang aneh.
"Eeeh! Iya gue emang pengen begitu tapi bukan tempat lu."
tolak hamster. Jantungnya berdenyut mengirim sinyal ketidakberesan. Nalurinya
memerintahnya untuk lari dari tikus yang di hadapannya itu.
"Ayo, jadi teman gue." si tikus mulai berlari ke arahnya.
Spontan dia lari menjauh dari tikus yang mengejarnya.
"Tolooong." teriaknya keras. Namun hanya terdengar cit..cit di
telinga manusia.
Sementara dua perempuan yang mencari hamster kebingungan. Ikoki
mendengar suara hamsternya. "Itu kedengarannya suara hamster gue deh. Tapi
kok ada suara lain ya." memasang telinga sambil celingak-celinguk kanan
kiri. Era juga ikut sibuk mencari sumber suara.
Dua hewan pengerat hitam tampak berkejar-kejaran dari kejauhan.
Keluar dari rumput sekolah lalu masuk lagi. Berlari sepanjang dinding koridor.
Kemudian masuk lagi ke rumput. Main umpet-umpetan di balik batang pohon yang
ada diantara rumput. Keluar lagi ke lantai koridor sekolah dan masuk ke dalam
ruangan. Sayangnya tidak ada musik india yang mengiringi aksi kejar-kejaran
itu.
Ikoki melihat hamsternya berlari dikejar-kejar seekor tikus yang
besarnya hampir sama, hanya lebih besar sedikit. Era pun menoleh setelah
bahunya ditepuk temannya. Mereka berdua ikut berlari untuk mengambil hamster
yang sedang dikejar itu. Namun terlambat karena dua hewan itu sudah masuk ke
dalam ruangan.
“Eh, Ki, itu kan ru..ruang guru.” Era panik.
“Iya, gimana dong.” Ikoki mikir, “Kita masuk aja, cari di dalam”
“Eh, gila lu. Nanti itu hamster disita tau. Lagipula..” Era mengintip
ruang guru, “guru-gurunya lagi rapat. Duh gimana ini.”
Era mikir sebentar, “Kok jadi gue sih yang panik banget. Ki, itu
kan hamster lu. Kagak panik apa lu.”
“Yee, gue lagi bingung ini.” Jawab Ikoki.
Kalau tadi mengumpat di balik pohon, sekarang mengumpat di balik
sepatu-sepatu yang berjejer rapi, teratur. Si tikus mesem-mesem sambil
bergumam, “Hoho, begini ya asiknya main kejar-kejaran sama calon kekasih.”
Badannya serasa terbang mengejar sasarannya, padahal dia hanya berlari.
Satu sepatu terangkat kemudian turun lagi. Alasnya mengenai si
tikus. Hampir saja tergencet kalau dia tidak segera bereaksi cepat. Karena
merasa menginjak sesuatu, pemilik sepatu melihat ke bawah, tapi tidak mendapati
apapun.
Si hamster sedang berlindung di balik sepatu yang bagian tumitnya
lebih tinggi dari ujungnya. Napasnya terengah-engah, capek lari-larian terus
dari tadi. Suara napasnya terdengar oleh si tikus. Pelan-pelan dia berjalan
menuju asal suara. Dia sampai di sepatu yang darinya suara napas itu berasal.
Dia hendak mengagetkannya dengan muncul dari samping hamster. Dia mengitari
tumit sepatu dan melihat si hamster sedang berdiam diri di samping sepatu.
“Halo sayang.” Sapa si tikus.
Si hamster terkejut melihat si tikus ada di sampingnya dan spontan
melompat ke kaki yang melekat dengan sepatu itu. Tidak terelakan lagi, si
pemilik sepatu berteriak. “Tikusng tikus..”
Si hamster melepaskan cengkeramannya, lalu berlari mencari jalan
keluar di antara sepatu-sepatu yang sudah mulai bergerak tidak karuan. “Masa
gue dibilang tikus lagi sih. Tikus aja bilang kalau gue hamster.” Protesnya.
Sementara si tikus kehilangan jejak calon kekasihnya. Dia sibuk
menghindar dari hantaman sepatu yang beterbangan di atasnya. Sedang si hamster
berhasil keluar melalui celah yang ada. Dia menuju deretan sepatu yang masih
diam, tidak bergerak seperti yang barusan dilewatinya. Sepatu yang diam ini
juga beda, bagian tumit dan ujungnya sejajar tidak ada yang lebih tinggi.
Dia melesat dengan cepat menuju cahaya putih yang terpancar dari
pintu keluar. Memasuki cahaya putih dan keluar dari ruang guru. Pemandangan
lantai koridor, rumput, dan lapangan sekolah terlihat kembali. Namun dia
menikmatinya hanya sesaat, setelah itu kepalanya terasa pusing menabrak sepatu
hitam.
“Ciit..ciit”. Ikoki menoleh ke bawah. Ada sesuatu yang menabrak
sepatunya. Wajahnya langsung sumringah.
“Eh, hamsterku. Akhirnya ketemu juga. Em, kamu darimana saja.”
Ikoki mengambil hamsternya, digenggam dan dielus-elus kepalanya, “Kamu bikin
aku khawatir saja. Lain kali jangan keluar lagi ya.”
“Iye tapi jangan remes gue kayak gini dong.” Si hamster protes tapi
hanya terdengar suara ‘ciit’ di telinga majikannya.
“Jelas aja hamster lu kabur. Orang lu perlakuin kayak begitu.” Ujar
Era. Tiba-tiba dia melihat sesuatu keluar dari ruang guru, “Ki, tikus!? Tikus!?”
“Duh, masa gue dibilang tikus lagi sih.” Protes hamster, tapi tetap
saja percuma karena manusia tidak mengerti ucapannya.
“Ih, Era. Ini hamster tau. Kok dibilang tikus sih.” Ikoki protes.
“Bukan... bukan. Tapi itu, tuh di depan kaki lu.” Era menujuk tikus
yang baru keluar dari ruang guru. Tikus itu menatap calon kekasihnya berada
dalam genggaman Ikoki.
“Dia ketemu pemiliknya sepertinya.” Si tikus menghela napas, “Pupus
sudah harapan gue.” Dia kembali ke tempat asalnya dengan wajah lesu.
Si hamster lega hatinya setelah melihat tikus yang mengejarnya
pergi. “Fiuuh, aman sudah. Kapok deh gue kabur dari majikan. Lagipula sekarang gue
sadar kalo rumput sendiri lebih hijau.”